Sanad dan Talaqqi

Belajar Quran Tidak Bisa Otodidak, Mengapa Musyafahah dan Sanad Itu Wajib

Tim fatihahQU 4 mnt baca

Allah menurunkan Al Quran melalui Jibril kepada Nabi secara musyafahah, dari mulut ke mulut. Begitu pula Nabi mengajarkan sahabat. Rantai sanad inilah yang menjaga Al Quran sampai hari ini. Belajar sendiri dari mushaf tidak cukup.

Pernahkah Anda berpikir, mengapa belajar Al Quran harus dengan guru? Mengapa tidak bisa cukup membaca mushaf sendiri di rumah, meniru dari audio, atau belajar dari aplikasi? Jawabannya berakar pada cara Allah sendiri menurunkan Al Quran.

Al Quran Berbeda dengan Kitab Sebelumnya

Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al Faqih menjelaskan, Al Quran berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Taurat ketika diturunkan Allah kepada Musa, turun sebagai kitab utuh, lembaran yang ditulis. Injil juga begitu, turun sebagai kitab utuh kepada Isa.

Tapi Al Quran tidak. Ketika Allah menurunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Allah memerintahkan Jibril untuk membacakan kepada Nabi. Ayat per ayat. Diajarkan cara baca ayat per ayat. Tidak diturunkan langsung 30 juz sekaligus.

Allah Memilih Nabi yang Tidak Bisa Baca Tulis

Allah memilih Nabi kita Muhammad yang pada dasarnya belum pernah ada pengalaman belajar menulis dan membaca. Ummi. Ini bukan kelemahan, tapi disengaja. Agar cara penyampaian Al Quran murni melalui musyafahah, dari mulut ke mulut, dari lisan ke lisan.

Dan Allah memilih Jibril, malaikat paling agung, yang memiliki 700 sayap. Begitu kuatnya Jibril, ujung sayapnya saja bisa menelengkupkan negeri Lut. Nabi pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya, menutupi ufuk timur sampai ufuk barat.

Jibril Menyerupai Dihyat al-Kalbi

Ketika Jibril mengajarkan Al Quran kepada Nabi, kadang beliau datang dalam wujud seorang sahabat yang bernama Dihyat al-Kalbi. Kenapa Dihyat al-Kalbi? Karena ia sahabat yang paling mirip dengan Nabi, dan ia seorang yang sangat beradab.

Jadi Nabi merasa nyaman, seolah belajar dari sahabat sendiri, padahal itu Jibril dalam wujud Dihyat. Inilah kemuliaan musyafahah, proses belajar yang personal, langsung, dari mulut ke mulut.

Rantai Sanad dari Nabi ke Kita

Nabi mengajarkan Al Quran kepada para sahabat secara musyafahah, dari lisan langsung ke lisan sahabat. Sahabat mengajarkan ke tabi'in. Tabi'in ke tabi'ut tabi'in. Begitu seterusnya, dari ulama ke ulama, dari generasi ke generasi, sampai kepada kita hari ini.

Inilah yang disebut sanad. Rantai periwayatan yang menjaga kemurnian bacaan Al Quran. Tanpa sanad, kita tidak tahu apakah bacaan kita sama dengan bacaan Rasulullah. Dengan sanad, kita yakin bacaan kita tersambung hingga ke Nabi.

Tidak Boleh Belajar Quran Sendiri dari Mushaf

Syaikh Ghazi menegaskan, tidaklah boleh bagi seorang Muslim, apakah orang Arab maupun non-Arab, belajar Al Quran sendiri dari mushaf tanpa guru. Harus ada guru yang mengajarkan, dan guru pun harus sudah pernah belajar dari gurunya, yang juga belajar dari gurunya, sampai rantainya sampai ke Rasulullah.

"Tidaklah boleh seseorang membaca Al Quran sendiri dari mushaf. Harus belajar dari guru yang belajar Al Quran dari gurunya, agar bacaannya benar.", ujar Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al Faqih.

Kenapa? Karena bacaan Al Quran itu sunnah, tradisi lisan yang dijaga melalui pendengaran, bukan melalui tulisan. Huruf-huruf di mushaf tidak bisa mengajarkan di mana letak makhraj, bagaimana sifat huruf, bagaimana mad, ghunnah, dan idgham. Hanya guru yang bisa.

Belajar dari Buku atau Aplikasi Tidak Cukup

Mungkin Anda bertanya, "Tapi kan sekarang banyak buku tajwid, video, aplikasi Al Quran?" Benar, dan itu baik untuk pengenalan dasar. Tapi bacaan Al Quran tidak bisa dikoreksi oleh buku atau aplikasi. Ketika Anda salah mengucapkan huruf Ain, buku tidak akan bilang "itu bukan Ain, itu Ain biasa". Hanya guru yang mendengar langsung yang bisa mengoreksi.

Inilah mengapa musyafahah tidak bisa diganti. Lidah kita butuh dikoreksi. Makhraj kita butuh dilatih. Sifat huruf kita butuh diperbaiki. Semua itu butuh guru yang mendengar dan mengoreksi secara langsung.

Sanad Adalah Jaminan Kualitas

Imam Ibnu Jazari, imam para imam tajwid, pernah mengatakan bahwa sanad dalam Al Quran adalah bagian dari kemurnian Al Quran itu sendiri. Tanpa sanad, bacaan kita tidak punya jaminan. Dengan sanad, kita tahu persis dari siapa kita belajar, dan dari siapa guru kita belajar, sampai ke Rasulullah.

Di FatihahQu, kelas tahsin Al Fatihah kami diajar oleh guru yang bersanad. Rantai sanadnya sampai ke Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al Faqih dari Masjid Nabawi Madinah, dan terus naik hingga ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Online via Zoom, tapi tetap dengan metode musyafahah, guru mendengar dan mengoreksi langsung. Karena belajar Al Quran bukan sekadar membaca, tapi menyambung rantai ilmu dari generasi ke generasi.

Sudah Siap Memperbaiki Bacaan Al Quran Anda?

Belajar langsung dari guru bersanad, online via Zoom. Cocok untuk pemula maupun yang ingin memperbaiki bacaan Al Fatihah.

Lihat Kelas Tahsin Al Fatihah

Tim fatihahQU

Penulis di FatihahQu